LAPORAN PRAKTIKUM TITRASI LARUTAN
ASAM DAN BASA
Disusun
Oleh :
Adam
Dary A.S
Aida
Rahma
Devin
A.K
Rafandra
Ariftito
Tiffani
Emanuela T
Wiyoga
Adhitya
SMAN
10 KOTA BOGOR
TAHUN
PELAJARAN 2017/2018
DAFTAR ISI
DAFTAR ISI……………..…………………………………………………………………i
BAB
I PENDAHULUAN
1.1 Latar belakang…………..........………………………………..………………………..1
1.2 Tujuan penelitian……………...………………………………………...……………….1
1.3 Rumusan masalah………………………………...……………………………………..1
1.4 Dasar teori………………………………....................................……………
BAB II PEMBAHASAN.
2.1.1 Alat dan Bahan……..………………………………………………………..3
2.1.2 Cara kerja………...………………………………………...……………….3
2.1.3 Analisa data..…………………………………,......…….……………………...4
2.2 Pembahasan……………………………………………………………………………….4
BAB
III JAWABAN
PERTANYAAN………………………………………………………………6
BAB
IV KESIMPULAN DAN SARAN……………………………………………………………...7
DAFTAR
PUSTAKA………………………………………………………………………………...iii
LAMPIRAN…………………………………………………………………………………………iv
\
i
BAB
I
PENDAHULUAN
1.1
Latar
Belakang
Larutan asam dan
basa dapat bersifat netral jika konsentrasi ion H+ dalam larutan
sama dengan konsentrasi OH- . reaksi netralisasi ini dapat dilakukan
untuk menentukan kadar konsentrasi berbagai jenis larutan terutama yang terkait
dengan asam dan basa. Kadar larutan asam dapat ditentukan dengan menggunakan
larutan basa yang telah diketahui kadarnya demikian pula sebaliknya.
Dalam praktikum ini
kita diharapkan dapat menentukan menentukan titik ekuivalen dan titik akhir
titrasi dengan mereaksikaan larutann HCl 0,4 M dengan larutan NaOH 0,4 M.
1.2
Tujuan
percobaan
·
Dapat
menentukan titik ekuivalen dan titik akhir titrasi larutan HCl dan NaOH 0,4 M
·
Dapat
melakukan prosedur titrasi larutan asam dan basa
·
Dapat
menentukan berat atau volume HCl dan NaOH yang diperlikan untuk membuat 200mL
larutan HCl dan NaOH 0,4 M.
·
Dapat
menentukan rata rata molaritas HCl
1.3
Rumusan
masalah
·
Berapakah
titik akhir titrasi dari masing masing percobaan?
·
Berapakah
molaritas rata rata HCl setelah reaksi?
·
Apakah
kegunaan dari fenolflatalein (PP)?
·
Apakah
titik ekuivalen dapat ditentukan tanpa fenolflatalein (PP)?
·
Dapatkah
fenolflatalein (PP) diganti dengan indicator lainnya? Perubahan warna apa yang
dihasilkannya?
1.4
Dasar
teori
a.
Titrasi
asam basa
Adalah proses penetapan kadar suatu
larutan dengan larutan yang sudah diketahui konsentrasinya secara mutlak.
Titrasi dilakukan untuk menetapkan molaritas suatu larutan dengan menggunakan
larutan lainnya yang telah diketahui molaritasnya. Larutan peniter disebut juga
larutan standar.ketepatan(akurasi) dari konsentrasi larutan yang diliter salah
satunya bergantung pada kepastian molaritas dari larutan peniter jika molaritas
larutan peniter tidak pasti maka molaritas larutan yang diliter pastilah tidak
akurat.
1
Berikut ini syarat-syarat yang
diperlukan agar titrasi yang dilakukan berhasil :
1.
Konsentrasi titrasi harus diketahui.
Larutan seperrti ini disebut larutan standar.
2.
Reaksi yang tepat antara titran dan
senyawa yang dianalisis harus diketahui.
3.
Titik stoikhiometri atau titik
ekivalen harus diketahui. Indikator yang memberikan perubahan warna, atau
sangat dekat pada titik ekivalen yang sering digunakan. Titik pada saat
indikator berubah warna disebut titik akhir.
4.
Volume titran yang dibutuhkan untuk
mencapai titik ekivalen harus diketahui setepat mungkin.
b.
Titik
ekuivlen dan titik akhir titrasi
Titik
ekuivalen adalah proses titrasi yang mencapai suatu keadaan saat asam dan basa
tepat habi bereaksi atau molasam= molbasa.titik ekuivalen
terjadi saat Ph larutan menunjukan angka 7 Sedangkan titik akhir titrasi adalah
kondisi dimana indicator titrasi menunjukan perubahan warna.
c.
Indicator
Indicator
pada proses titrasi larutan asam dan basa berguna untuk menunjukan kapan titik
ekuivalen tercapai, indicator yang digunakan pada percobaan ini adalah
fenolflatalein (PP) yaitu dari tidak berwarna menjadi merah ungu dan memiliki
trayek ph 8,0-9,6.
2
BAB
II
PEMBAHASAN
2.1 Hasil penelitian
2.1.1 Alat dan bahan
Alat :
|
no
|
nama alat
|
ukuran
|
jumlah
|
|
1
|
buret
|
50 ml
|
1
|
|
2
|
erlenmeyer
|
250 ml
|
3
|
|
3
|
gelas beker
|
250 ml
|
2
|
|
4
|
gelas ukur
|
100 ml
|
1
|
|
5
|
pipet tetes
|
-
|
2
|
|
6
|
corong kaca
|
-
|
1
|
|
7
|
labu ukur
|
1000 ml
|
1
|
Bahan :
|
no
|
nama bahan
|
jumlah
|
|
1
|
NaOH 0,4 M
|
200 ml
|
|
2
|
HCl 0,2 M
|
200 ml
|
|
3
|
indikator pp
|
9 tetes
|
|
4
|
aquades
|
1 liter
|
2.1.2
Cara kerja
1. Membuat larutan NaOH 0,4 sebanyak 200
ml
2. Membuat larutan HCl sebanyak 100 ml
3. Isi buret 50ml dengan larutan NaOH hingga garis 0 ml
4. Mengisi Erlenmeyer dengan 10 ml larutan HCl kemudian
ditetesi dengan indicator PP sebanyak 3 tetes
5. Larutan HCl terus ditetesi oleh larutan NaOH. Penetesan
dilakukan secara hati hati dan labu erlemeyer terus menerus digoncagkan .
penetesan dihentikan saat terjadi perubahan warna yang tetap yaitu merah muda
3
6. hitunglah volume NaOH 0,4 yang digunakan
7. ulangi prosedur diatas hingga diperoleh 3 data berbeda yang
hampir sama
2.1.3
Analisis data
·
Perhitungan
pembuatan larutan NaOH dan HCl
1.
Pembuatan
larutan NaOH 0,4 M
M =
gram/Mr x 1000/ml
0,4=gram/40
x 1000/200
0,4=10 x
gram /80
Gram=3,2
3,2 gram
bubuk NaOH dilarutkan dengan 200ml aquades
2.
Pembuatan
larutan HCl
V1.M1=V2.M2
20.2=X.0,4
X=100ml
20 ml
HCl 2 M dilarutkan dengan 100 ml aquades untuk membentuk larutan HCl 0,4 M
·
Table
hasil pengamatan
|
no
|
percobaan ke-
|
volume NaOH 0,4 M yang telah digunakan
|
|
1
|
1
|
13 ml
|
|
2
|
2
|
12,3 ml
|
|
3
|
3
|
12,1 ml
|
2.2 Pembahasan
1.
Percobaan
pertama
Pada percobaan pertama perubahan
warna sementara larutan HCl mulai terlihat sejak penetesan larutan NaOH
menghabiskan 8 ml. perubahan warna secara drastic menjadi warna ungu tua
terjadi saat penetesan larutan NaOH menghabiskan 13ml dan penetesan larutan
NaOH dihentikan karna telah mencapai titik akhir titrasi. namun warna ungu tua
yang dihasilkan terlalu pekat sehingga disimpulkan telah melewati titik
ekuivalen.
4
2.
Percobaan
kedua
Pada percobaan kedua perubahan
warna sementara larutan HCl mulai terlihat sejak penetesan larutan NaOH
menghabiskan 8 ml. perubahan warna secara drastic menjadi warna ungu terjadi
saat penetesan larutan NaOH menghabiskan 12,3 ml dan penetesan larutan NaOH dihentikan
karna telah mencapai titik akhir titrasi. namun warna ungu tua yang dihasilkan
masih terlalu pekat sehingga disimpulkan pada percobaan ke 2 telah melewati
titik ekuivalen.
3.
Percobaan
ketiga
Pada percobaan ketiga perubahan
warna sementara larutan HCl mulai terlihat sejak penetesan larutan NaOH
menghabiskan 8 ml. perubahan warna secara drastic menjadi warna ungu tua
terjadi saat penetesan larutan NaOH menghabiskan 12,1 ml dan penetesan larutan
NaOH dihentikan karna telah mencapai titik akhir titrasi. warna ungu tua yang
dihasilkan tepat seperti yang pembimbing percobaan arahkan sehingga kesimpulan pada
percobaan ke 3 telah mencapai titik ekuivalen yaitu 12,1 ml.
Rata
rata volume HCl yaitu 12,46ml, maka:
V1.M1=V2.M2
10.0,4=12,46.
M2
M2=0,32M
Maka rata
rata molaritas larutan HCl adalah 0,32M
5
BAB
III
JAWABAN
PERTANYAAN
1.
Apa kegunaan dari fenolftalein?
Fenolftalein digunakan sebagai indikator keadaan suatu
zat yang bersifat lebih asam atau lebih basa.. Indikator fenolftalein juga menunjukkan perubahan warna yang dapat membantu kita
menentukan titik akhir titrasi.
2.
Apakah
titik ekuivalen dapat ditentukan tanpa fenolflatalein (PP)?
Tidak bisa. Karena titik ekuivalen hanya dapat diketahui
dengan menambahkan suatu indicator. Indicator ini berubah warna di sekitar titik
ekuivalen. Titik ekuivalen pada percobaan diatas ditandai oleh perubahan warna
dari tidak berwarna menjadi merah merah muda.
3.
Dapatkah
fenolflatalein (PP) diganti dengan indicator lainnya? Perubahan warna apa yang
dihasilkannya?
Ya,
indikator fenolftalein diganti dengan indicator lain sepertiBromtimol Biru yang
memiliki trayek perubahan warna 6,0 – 7,6 (kuning – biru) dan Metil Merah yang
memiliki trayek perubahan warna 4,2 – 6,3 (merah – kuning). Akan tetapi,
fenolftalein lebih sering digunakan karena perubahan warna fenolftalein lebih
mudah diamati.
6
BAB IV
KESIMPULAN
4.1 Kesimpulan
Penggunaan
indicator fenolftalein (PP) merupakan indicator yang sangat
cocok untuk titrasi larutan HCl dan NaOH yang merupakan asam kuat dan basa kuat
karna memiliki perubahan warna yang mudah diamati juga memiliki trayek ph
8,0-9,6.
Dari 3 kali
percobaan rata rata volume penggunaan NaOH yaitu 12,46 ml, maka dapat
disimpulkan pula titik akhir titrasi rata rata yaitu 12,46 ml.
Berdasarkan
percobaan keompok kami titik ekuivalen terjadi pada 12,1 ml karena terjadi
perubahan warna dari bening menjadi merah muda, larutan juga tidak menjadi bening
lagi maka telah mencapai titik ekuivalen.
Maka dari
perhitungan ratarata nolume NaOH yang digunakan dapat ditentukan molaritas rata
rata HCl yaitu 0,32 M
4.2 Saran
Percobaan ini harus dilakukan secara perlahan dan hati hati
melihat tipisnya perbadaan volume NaOH yang digunaakan di setiap percobaannya.
Hal ini akan berefek sangat besar untuk keakuratan data yang akan diperoleh
jika terjadi sedikit saja kelalaian dalam percobaan.
7
DAFTAR PUSTAKA
Buku paket KIMIA untuk sma/ma
kelas XI berdasarkan kurikulum 2013 yang disempurnakan penerbit erlangga
iii
LAMPIRAN
DILARANG KERAS MENGCOPY TANPA IZIN
jangan lupa sertakan sumber jika ingin memakai makalah ini :))







