Minggu, 04 Februari 2018

laporan praktikum titrasi larutan asam dan basa

LAPORAN PRAKTIKUM TITRASI LARUTAN ASAM DAN BASA





Disusun Oleh :

Adam Dary A.S
Aida Rahma
Devin A.K
Rafandra Ariftito
Tiffani Emanuela T
Wiyoga Adhitya

SMAN 10 KOTA BOGOR
TAHUN PELAJARAN 2017/2018


DAFTAR ISI

            DAFTAR ISI……………..…………………………………………………………………i
BAB I  PENDAHULUAN
1.1  Latar belakang…………..........………………………………..………………………..1
1.2  Tujuan penelitian……………...………………………………………...……………….1
1.3   Rumusan masalah………………………………...……………………………………..1
1.4  Dasar teori………………………………....................................……………
          
BAB II PEMBAHASAN.
                        2.1.1 Alat dan Bahan……..………………………………………………………..3
                        2.1.2 Cara kerja………...………………………………………...……………….3
                        2.1.3 Analisa data..…………………………………,......…….……………………...4
            2.2 Pembahasan……………………………………………………………………………….4
BAB III   JAWABAN PERTANYAAN………………………………………………………………6
BAB IV KESIMPULAN DAN SARAN……………………………………………………………...7
DAFTAR PUSTAKA………………………………………………………………………………...iii
LAMPIRAN…………………………………………………………………………………………iv




           



\
            i
BAB I
PENDAHULUAN

1.1              Latar Belakang
Larutan asam dan basa dapat bersifat netral jika konsentrasi ion H+ dalam larutan sama dengan konsentrasi OH- . reaksi netralisasi ini dapat dilakukan untuk menentukan kadar konsentrasi berbagai jenis larutan terutama yang terkait dengan asam dan basa. Kadar larutan asam dapat ditentukan dengan menggunakan larutan basa yang telah diketahui kadarnya demikian pula sebaliknya.
Dalam praktikum ini kita diharapkan dapat menentukan menentukan titik ekuivalen dan titik akhir titrasi dengan mereaksikaan larutann HCl 0,4 M dengan larutan NaOH 0,4 M.
1.2              Tujuan percobaan
·         Dapat menentukan titik ekuivalen dan titik akhir titrasi larutan HCl dan NaOH 0,4 M
·         Dapat melakukan prosedur titrasi larutan asam dan basa
·         Dapat menentukan berat atau volume HCl dan NaOH yang diperlikan untuk membuat 200mL larutan HCl dan NaOH 0,4 M.
·         Dapat menentukan rata rata molaritas HCl

1.3              Rumusan masalah
·         Berapakah titik akhir titrasi dari masing masing percobaan?
·         Berapakah molaritas rata rata HCl setelah reaksi?
·         Apakah kegunaan dari fenolflatalein (PP)?
·         Apakah titik ekuivalen dapat ditentukan tanpa fenolflatalein (PP)?
·         Dapatkah fenolflatalein (PP) diganti dengan indicator lainnya? Perubahan warna apa yang dihasilkannya?

1.4              Dasar teori

a.       Titrasi asam basa

Adalah proses penetapan kadar suatu larutan dengan larutan yang sudah diketahui konsentrasinya secara mutlak. Titrasi dilakukan untuk menetapkan molaritas suatu larutan dengan menggunakan larutan lainnya yang telah diketahui molaritasnya. Larutan peniter disebut juga larutan standar.ketepatan(akurasi) dari konsentrasi larutan yang diliter salah satunya bergantung pada kepastian molaritas dari larutan peniter jika molaritas larutan peniter tidak pasti maka molaritas larutan yang diliter pastilah tidak akurat.

1
Berikut ini syarat-syarat yang diperlukan agar titrasi yang dilakukan berhasil :
1.      Konsentrasi titrasi harus diketahui. Larutan seperrti ini disebut larutan standar.
2.      Reaksi yang tepat antara titran dan senyawa yang dianalisis harus diketahui.
3.      Titik stoikhiometri atau titik ekivalen harus diketahui. Indikator yang memberikan perubahan warna, atau sangat dekat pada titik ekivalen yang sering digunakan. Titik pada saat indikator berubah warna disebut titik akhir.
4.      Volume titran yang dibutuhkan untuk mencapai titik ekivalen harus diketahui setepat mungkin.


b.      Titik ekuivlen dan titik akhir titrasi
Titik ekuivalen adalah proses titrasi yang mencapai suatu keadaan saat asam dan basa tepat habi bereaksi atau molasam= molbasa.titik ekuivalen terjadi saat Ph larutan menunjukan angka 7 Sedangkan titik akhir titrasi adalah kondisi dimana indicator titrasi menunjukan perubahan warna.
c.       Indicator
Indicator pada proses titrasi larutan asam dan basa berguna untuk menunjukan kapan titik ekuivalen tercapai, indicator yang digunakan pada percobaan ini adalah fenolflatalein (PP) yaitu dari tidak berwarna menjadi merah ungu dan memiliki trayek ph 8,0-9,6.












2
BAB II
PEMBAHASAN

2.1       Hasil penelitian
            2.1.1 Alat dan bahan
Alat      :
no
nama alat
ukuran
jumlah
1
buret
50 ml
1
2
erlenmeyer
250 ml
3
3
gelas beker
250 ml
2
4
gelas ukur
100 ml
1
5
pipet tetes
-
2
6
corong kaca
-
1
7
labu ukur
1000 ml
1

Bahan  :
no
nama bahan
jumlah
1
NaOH 0,4 M
200 ml
2
HCl 0,2 M
200 ml
3
indikator pp
9 tetes
4
aquades
1 liter

2.1.2 Cara kerja
1.         Membuat larutan NaOH 0,4 sebanyak 200 ml
2.         Membuat larutan HCl  sebanyak 100 ml
3.         Isi buret 50ml dengan larutan NaOH  hingga garis 0 ml
4.         Mengisi Erlenmeyer dengan 10 ml larutan HCl kemudian ditetesi dengan indicator PP sebanyak 3 tetes
5.         Larutan HCl terus ditetesi oleh larutan NaOH. Penetesan dilakukan secara hati hati dan labu erlemeyer terus menerus digoncagkan . penetesan dihentikan saat terjadi perubahan warna yang tetap yaitu merah muda
3
6.         hitunglah volume NaOH 0,4 yang digunakan
7.         ulangi prosedur diatas hingga diperoleh 3 data berbeda yang hampir sama

2.1.3 Analisis data
·         Perhitungan pembuatan larutan NaOH dan HCl

1.      Pembuatan larutan NaOH 0,4 M
M = gram/Mr x 1000/ml
0,4=gram/40 x 1000/200
0,4=10 x gram /80
Gram=3,2
3,2 gram bubuk NaOH dilarutkan dengan 200ml aquades
2.      Pembuatan larutan HCl
V1.M1=V2.M2
20.2=X.0,4
X=100ml
20 ml HCl 2 M dilarutkan dengan 100 ml aquades untuk membentuk larutan HCl 0,4 M
·         Table hasil pengamatan
no
percobaan ke-
volume NaOH 0,4 M yang telah digunakan
1
1
13 ml
2
2
12,3 ml
3
3
12,1 ml

2.2  Pembahasan

1.      Percobaan pertama
Pada percobaan pertama perubahan warna sementara larutan HCl mulai terlihat sejak penetesan larutan NaOH menghabiskan 8 ml. perubahan warna secara drastic menjadi warna ungu tua terjadi saat penetesan larutan NaOH menghabiskan 13ml dan penetesan larutan NaOH dihentikan karna telah mencapai titik akhir titrasi. namun warna ungu tua yang dihasilkan terlalu pekat sehingga disimpulkan telah melewati titik ekuivalen.
4
2.      Percobaan kedua
Pada percobaan kedua perubahan warna sementara larutan HCl mulai terlihat sejak penetesan larutan NaOH menghabiskan 8 ml. perubahan warna secara drastic menjadi warna ungu terjadi saat penetesan larutan NaOH menghabiskan 12,3 ml dan penetesan larutan NaOH dihentikan karna telah mencapai titik akhir titrasi. namun warna ungu tua yang dihasilkan masih terlalu pekat sehingga disimpulkan pada percobaan ke 2 telah melewati titik ekuivalen.

3.      Percobaan ketiga
Pada percobaan ketiga perubahan warna sementara larutan HCl mulai terlihat sejak penetesan larutan NaOH menghabiskan 8 ml. perubahan warna secara drastic menjadi warna ungu tua terjadi saat penetesan larutan NaOH menghabiskan 12,1 ml dan penetesan larutan NaOH dihentikan karna telah mencapai titik akhir titrasi. warna ungu tua yang dihasilkan tepat seperti yang pembimbing percobaan arahkan sehingga kesimpulan pada percobaan ke 3 telah mencapai titik ekuivalen yaitu 12,1 ml.

Rata rata volume  HCl yaitu 12,46ml, maka:
V1.M1=V2.M2
10.0,4=12,46. M2
M2=0,32M
Maka rata rata molaritas larutan HCl adalah 0,32M











5
 BAB III
JAWABAN PERTANYAAN

1.      Apa kegunaan dari fenolftalein?
Fenolftalein digunakan sebagai indikator keadaan suatu zat yang bersifat lebih asam atau lebih basa.. Indikator fenolftalein juga  menunjukkan perubahan warna yang dapat membantu kita menentukan titik akhir titrasi.
2.      Apakah titik ekuivalen dapat ditentukan tanpa fenolflatalein (PP)?
Tidak bisa. Karena titik ekuivalen hanya dapat diketahui dengan menambahkan suatu indicator. Indicator ini berubah warna di sekitar titik ekuivalen. Titik ekuivalen pada percobaan diatas ditandai oleh perubahan warna dari tidak berwarna menjadi merah merah muda.
3.      Dapatkah fenolflatalein (PP) diganti dengan indicator lainnya? Perubahan warna apa yang dihasilkannya?
Ya, indikator fenolftalein diganti dengan indicator lain sepertiBromtimol Biru yang memiliki trayek perubahan warna 6,0 – 7,6 (kuning – biru) dan Metil Merah yang memiliki trayek perubahan warna 4,2 – 6,3 (merah – kuning). Akan tetapi, fenolftalein lebih sering digunakan karena perubahan warna fenolftalein lebih mudah diamati.












6
BAB IV

KESIMPULAN

4.1  Kesimpulan

Penggunaan indicator  fenolftalein (PP) merupakan indicator yang sangat cocok untuk titrasi larutan HCl dan NaOH yang merupakan asam kuat dan basa kuat karna memiliki perubahan warna yang mudah diamati juga memiliki trayek ph 8,0-9,6.
            Dari 3 kali percobaan rata rata volume penggunaan NaOH yaitu 12,46 ml, maka dapat disimpulkan pula titik akhir titrasi rata rata yaitu 12,46 ml.
            Berdasarkan percobaan keompok kami titik ekuivalen terjadi pada 12,1 ml karena terjadi perubahan warna dari bening menjadi merah muda, larutan juga tidak menjadi bening lagi maka telah mencapai titik ekuivalen.
            Maka dari perhitungan ratarata nolume NaOH yang digunakan dapat ditentukan molaritas rata rata HCl yaitu 0,32 M

4.2  Saran 

Percobaan ini harus dilakukan secara perlahan dan hati hati melihat tipisnya perbadaan volume NaOH yang digunaakan di setiap percobaannya. Hal ini akan berefek sangat besar untuk keakuratan data yang akan diperoleh jika terjadi sedikit saja kelalaian dalam percobaan.


















7
DAFTAR PUSTAKA

Buku paket KIMIA untuk sma/ma kelas XI berdasarkan kurikulum 2013 yang disempurnakan penerbit erlangga



































iii
LAMPIRAN







 


 DILARANG KERAS MENGCOPY TANPA IZIN
jangan lupa sertakan sumber  jika ingin memakai makalah ini :))